Friday, 31 October 2014

karya sastra_Perjuangan Samir Siang Itu

Perjuangan Samir Siang Itu

Telah berulang-ulang. Iya, berulang-ulang. Samir menjumputi kotak-kotak balok tanah yang memadat-dingin di hamparan berpetak tanah yang menjadi ubun-ubun jemurannya. Kotak-kotak balok tanah itu adalah bakal calon bata merah, yang kan menemui merahnya warna usai pembakaran nanti. Samir  ditugaskan oleh komandan korps keluarga, ayahnya, untuk merapi-cantikkan kotak-kotak balok tanah tersebut.
Samir yang siang ini tak rapi, Samir yang siang itu rambutnya tak klimis cantik, mendulang tugas mulia tersebut demi sesuatu yang akan menjadi bagian sejarah hidupnya, kelak. Demi tercatat dalam daftar siswa sebuah RSBI di kotanya, Samir siang ini harus lebih gesit ketimbang Burung Jalak, Samir lebih perkasa ketimbang nDemo, sapi kesayangannya. Kotak-kotak balok tanah ini harus genap sepuluh ribu untuk rapi-cantik sebelum dibakar senja lusa.
Beberapa orang yang lewat di samping kebun Samirr melambai. Bersama dengan melebarnya senyum, beberapa jempol hitam berbau tanah mengacung.
“Nah, ini baru anaknya bapaknya!!” seloroh salah satu yang bergigi amburadul disambut tiga-empat cuwilan tawa serta anggukan multikultural.
Samir memisahkan kedua bibirnya menjadi tawa lebar, tanpa dendam.
“Baru pulang, Lik?!” balasnya menyapa dengan tetap menggerakkan bilah pisau di sisi-sisi tubuh bakal calon bata merah.
Sekali lagi, karnaval anggukan multikultural memenuhi jalan kecil di samping kebun Samir. Anggukan-anggukan yang membawa ribuan makna pesan. Anggukan tetangga yang menghargai pencapaian tetangganya. Anggukan penuh welas-asih orang tua pada pancapaian orang muda seperti Samir. Hingga anggukan yang menyimpan pesan sederhana betapa kemanusiaan terhadir dalam pesan anggukan.
Ketika perutnya memberikan peringatan suara, orang-orang yang menjadi empunya anggukan multikultural tersebut telah hilang dalam ruang pandang Samir. Bayang tubuh mereka ditelah lekukan dhapuran bambu apus di sudut kebunnya. Perut dan hilangnya bayangan mereka sama-sama berkata; “Hari sudah siang, Samir.”
Namun, kata-kata itu seperti menghantam dinding batu ciptaan Samir. Bayangan dirinya bercelana abu-abu dengan badge seragam sekolah bergengsi di kotanya melahirkan dinding batu yang tak mudah diroboh-hempaskan, bahkan oleh Densus 88. Besar hasrat Samir untuk menggenapkan kerapian-kecantikan sepuluh ribu kotak-kotak balok tanah tersebut.
Andaikata benar senja lusa bisa dibakar, besar kemungkinan sepuluh ribu bata merah tersebut akan habis terjual. Mengingat, telah ada yang memesannya.
Di antara lapar dan lelahnya, bayangan kawan-kawan sekolahnya dulu melintas. Mono yang berperut buncit, Rojak yang manis namun  berlengan buah Pepaya, Pakdhe yang mengalami pengubanan dini, Rina juga  yang tidak dapat diwakilkan pada kepingan sajak atau penggalan bulan. Hihihihihi, dalam hati Samir tersenyum sendiri.
Kemana teman-teman itu akan melanjutkan sekolah?
Pesta perpisahan juga agenda mendharmawisatakan bapak-ibu gurunya telah seminggu berlalu, bulan depan Samir akan menanggalkan celana pendek biru demi celana panjang abu-abu yang membuatnya nampak lebih dewasa. Bulan depan, Samir akan tampak lebih dewasa. Samir nggak akan malu-malu lagi mengajak bicara dari hati ke hati dengan teman-teman perempuannya.
Ah, andai ketemu lagi Rojak yang berlengan buah Pepaya atau Rini yang tidak dapat diwakilkan pada kepingan sajak atau penggalan bulan, Samir akan lebih pede untuk mengajaknya jalan-jalan, atau mencubit hidungnya saat bercanda.
“Aaaaaacccccccccchhhh.........”
Teriakan Samir membongkar keheningan kebun belakang itu. Tumpukan kotak-kotak balok tanah yang telah dirapi-cantikkan hanya terdiam. Sedang kotak-kota balok tanah yang terhampar belum tersentuh hanya mematung. Bibir Samir tercekat menahan sakit. Darah mengalir di antara alam angani dan realiti.
“Ada apa, Mir??!” suara Bapaknya yang membersihkan kandang nDemo terdengar keras.
Samirr tidak menyahut. Dengan langkah tergesa, dirinya segera lari ke dapur mencari minyak tanah dan potongan kain perca yang telah usang. Tangan kirinya dipegang erat. Tak ada jerit kesakitan lebih berkumandang. Jari tangannya yang teriris pisau perapi-cantik kotak-kotak balok tanah menjadi pembuyar angannya tentang sekolah elit di kotanya, tentang celana abu-abu, dan tentang kedewasaan mencubit hidung Rojak yang berlengan buah Pepaya atau Rini yang tidak dapat diwakilkan pada kepingan sajak atau penggalan bulan.
Suara bapak dan emaknya yang ribut menasehati juga marah-marah menjadi lagu penutup perjuangan Samirr, hari itu.

*********
Jombang, 23 Juni 2011 17:24
Nurul Jamilah
Mahasiswi BSA semester VI

karya sastra_Surat Rindu untuk Bapak

Surat Rindu untuk Bapak

Oleh: Nurul Jamilah

Semilir angin kamboja, mengiringi dengan lembutnya
Mengantarkan hentakan cintaku untukmu bapak...
Rasa rindu yang tiada terbendung
Selalu menyelimuti sanubari ini

Tak lagi mengiringi detak nafasku yang tersisa kini
Tutur kata yang selalu mendendang,
Kini berhenti seketika, laksana petir menghantamku.
Duka yang kau sematkan

Begitu mesranya menyelimuti hari-hariku
Bapak, rindu yang tak terbalas
Kini hanyalah simpan belaka
Kelak ku mau kau selalu menemani ku di syurgaNya
Bapak rinduku selalu untukmu

karya sastra_Bajuku Bajumu

Bajuku Bajumu

Oleh: Ahmad Kholil, M.fil.I

Kerikil tajam ini jadi saksi
Sawah yang mengering ini prasasti
Untuk cinta yang takkan mati
Oleh duka dan sengsara
Tujuh samudra kusebrangi
Tujuh daratan kuhampiri
Demi kekasih
Yang setia setulus hati
Cinta dinda
Aku bukan kumbang
Kau bukanlah mawar
Jika ku kumbang
hanya hinggap dan terbang
Jika kau mawar
Tentu kan layu hilang wangi
Tapi
Kau adalah aku
Aku adalah kau
Seperti baju
Kupakai kaupakai

karya sastra_Takut Sekolah

Takut Sekolah

Oleh: Ahmad Kholil, M.fil. I

Tidak tahu kenapa pagi itu tiba-tiba Ibu menggendongku dengan sedikit memaksa. Padahal biasanya, pagi begitu ibu mengajakku ke sawah menyusul bapak yang sudah berangkat sebelum jam 06.00. Kecil dulu aku memang biasa main bersama teman-teman di ladang atau persawahan. Sejak kecil pula aku sering diajak orang tua ke sawah. Maklum, saat itu belum ada televisi dan listrik belum masuk ke desaku. Berangkat pagi pulang sore adalah pekerjaan rutin orang-orang di kampungku. Meskipun di sawah, karena masih anak, di sana bukan kerja atau sekedar membantu orang tua, tapi justru bermain-main. Ya, di sawah adalah main-main, dan di sana juga banyak anak-anak yang turut orang tuanya yang bisa diajak bermain. Karena itu tidak repot untuk mendapatkan teman sepemainan, bahkan ada juga yang lebih besar. Permainan di sawah amat sederhana, tapi sungguh amat menyenangkan.  Damen, batang padi yang habis digampung bisa dibuat sempitan kecil yang mengeluarkan suara seperti gasir atau jangkrik. Kami juga bisa buat baling-baling dari daun kelapa. Kami juga bisa buat berbagai jenis mainan dari pohon pisang, tanah liat, pelepah kelapa, atau hanya bermain di kali kecil pinggir sawah untuk mencari ikan. Anak-anak yang di sawah itu adalah anak para petani atau buruh tani. Mereka selalu asyik main di sawah, karena di rumah tidak ditemukan mainan yang menyenangkan, dan kalaupun memiliki mainan, tidak ada teman yang diajak main bersama karena mereka tidak bisa tinggal di rumah tanpa orang tua yang pagi sampai sore selalu berada di sawah.
Dalam gendongan ibu aku berontak. Aku pukulkan tangan kelengan dan pundak ibu. Saya menolak digendong karena sebelumnya sudah sering dikatakan padaku agar aku mau sekolah. Aku tahu pagi itu adalah waktu bagi anak-anak untuk sekolah. Aku lebih suka diajak ke sawah daripada harus ke sekolah. Kalau ke sawah tidak perlu digendong, tapi cukup bilang 'ayo berangkat', aku langsung menguntit di belakang ibu. Di sawah enak, udaranya segar dan hawanya nyaman karena dikelilingi pepohonan. Meskipun di bawah terik matahari yang menyengat, tetap saja di sawah nyaman. Sementara di kelas, di samping harus diam tidak bisa bermain untuk mendengarkan penjelasan guru dan mencatat apa yang ditulis di papan, setelah selesai sering ditanya oleh guru untuk mengulangi apa yang telah disampaikan. Tidak hanya begitu, setelah pulang sering masih diberi tugas pekerjaan rumah. Karena itu, anak-anak yang sekolah tidak punya kesempatan yang banyak untuk bermain. Maka saya lebih enak tidak sekolah. Begitu pikirku waktu itu.
Tanpa mempedulikan rasa sakit oleh tingkah tanganku yang tidak mau berhenti, ibu terus berjalan diiringi ayah di belakangnya. Kebetulan jarak rumah dengan sekolah tidak begitu jauh, kurang lebih 700 m. Selama dalam perjalanan, aku tidak henti-hentinya berontak sambil tetap memukul-mukulkan tangan dan menangis sejadi-jadinya. Ayah dan ibuku begitu kuat dan tabah, mereka tidak peduli dengan sikapku meskipun pekerjaan menggendong sambil dipukuli bukanlah ringan. Sesekali ayah menahan tanganku agar tidak terus berontak, tapi karena sambil berjalan, kadang pegangannya lepas. Begitu pegangan tangan ayah lepas, tanganku kembali beraksi. Dalam perjalanan menuju sekolah itu, setiap bertemu orang yang dikenal orang tuaku mendapat pertanyaan, kenapa ? Pertanyaan itu dijawab enteng oleh ayahku, 'mau sekolah'. Tentu mereka sudah mafhum, karena waktu itu sudah biasa anak-anak desa enggan sekolah dan menangis kalau pertama pergi sekolah. Bahkan tidak jarang para guru berkunjung ke rumah warga penduduk karena mengetahui anak dari keluarga tersebut tidak mau sekolah, padahal usianya telah mencukupi, bahkan mungkin telah kelewat batas.
Tahun 70-an di desa belum ada lembaga pendidikan pra sekolah yang formal semacam taman kanak-kanak atau TK.  Taman kanak-kanak hanya ada di kota, dan tidak semua orang tua anak-anak itu merasa perlu memasukkan anaknya ke TK sebelum masuk ke Sekolah Dasar. Bagi mereka, memasukkan anaknya ke TK hanya akan membuang-buang waktu karena mereka tidak bisa bekerja. Anak yang masuk TK biasanya harus ditunggu sampai pulang. Kalaupun tidak ditunggu, pada jam sebelum usai pekerjaan yang mereka lakukan, mereka harus menjemputnya. "Di TK itu kan cuma main-main, kalau anak sebelum sekolah sudah harus ke TK kan enak guru SD-nya', begitu kata sebagian orang yang enggan memasukkan anaknya ke TK di kota. Sementara kalau di desa, tidak lain karena semata-mata tidak ada TK. Kalaupun ada, tentu lebih sulit lagi bagi guru-guru mensosialisasikannya, mengajak anak yang belum waktunya sekolah masuk ke sekolah. Kenapa demikian, karena untuk memahamkan perlunya sekolah dasar saja perlu kerja keras, rayuan-rayuan atau iming-iming tertentu, apalagi yang namanya pra-sekolah, atau sebelum masuk ke lembaga yang disebut sekolah, apa perlunya?
Meskipun demikian, anak-anak usia 5 tahun di desa sudah banyak yang pandai mengaji. Langgar, yaitu musholla yang biasa digunakan untuk sholat jamaah kaum muslimin selalu diisi untuk kegiatan belajar membaca al-Qur'an atau mengaji pada waktu antara maghrib dan isya'. Mereka yang mengaji itu adalah anak-anak desa, mulai usia 3 tahun sampai 17, bahkan ada yang sampai 20 tahun. Dengan belajar model klasik, yaitu belajar membaca perhuruf dari huruf Hiza'iyah, kemudian meningkat ke huruf yang berharakat dengan susunan huruf yang putus-putus sampai yang bergandeng, pada umur 7 tahun, sebelum masuk sekolah dasar kebanyakan mereka sudah lebih dulu mengenal ngaji dan bisa membaca al-Qur'an. Karena masih anak-anak, bacaan itu tentu belum bisa dikatagorikan baik, dalam arti memenuhi kaidah-kaidah ilmu tajwid. Biasanya ilmu tajwid dikenalkan sambil jalan hingga mereka selesai, yaitu masa di mana mereka sudah mau menikah. Saat menikah, mereka 'berkewajiban' mendemonstrasikan kemampuan membaca al-Qur'an yang biasanya dikhususkan pada surat-surat pendek di juz yang terakhir saja, yaitu juz Amma.
Sesampai di sekolah ibu langsung masuk kelas sambil tetap menggendongku, sementara ayah menemui kepala sekolah di kantor. Aku masih ingat guru yang mengajar kelas satu saat itu, yaitu Ibu Suyatmi. Beliau berasal dari Kediri. Bersama temannya satu kota, Ibu Astuti Tri Rahayu, Bu Yat, begitu biasanya beliau dipanggil, diangkat oleh pemerintah dan ditugaskan di Kota Arum. Kepada ibuku, Bu Yat meminta agar mendudukkanku di bangku. Kepadaku, Bu Yat juga merayu agar aku mau duduk sendiri. Dasar anak, aku tidak bergeming, karena merasa nyaman di pangkuan ibu. Proses belajar terus berjalan, Bu Yat menuliskan angka tujuh berbaris sepuluh ke samping kanan dan lima ke bawah di papan. Sebelum menuliskan di papan, Bu Yat juga telah memberi tahu anak-anak bagaimana cara menulis angka tujuh yang benar, yaitu dari pojok kiri atas ditarik ke kanan lalu ditarik lagi ke pojok kiri bawah. Setelah tulisan angka tujuh itu rapi berjajar, anak-anak disuruh menyalinnya di buku tulisnya masing-masing.
Kulihat Ibuku menulis di buku yang sudah dipersiapkan sejak dari rumah. Seperti yang diminta oleh Bu Yat, Ibuku menulis angka tujuh berjajar sepuluh ke samping dan lima ke bawah. Kulihat tulisan angka tujuh ibu rapi berbaris. Bila dihitung, angka tujuh yang tulis di buku itu berjumlah 50. Tapi aku saat itu belum bisa berhitung sampai setinggi itu. Paling-paling yang aku bisa cuma sampai sepuluh. Memang untuk masuk ke sekolah dasar saat itu tidak ada tes. Yang diperlukan hanyalah kemauan, baik dari anaknya sendiri maupun orang tua. Ada yang anaknya mau, tapi orang tuanya enggan. Ini biasanya terjadi pada anak perempuan, karena perempuan, bagaimanapun pinternya, tugas utamanya adalah di dapur . Demikian menurut pendapat umum masyarakat saat itu. Kalaupun mereka tetap sekolah, biasanya tidak sampai selesai, tamat mendapatkan ijazah. Dengan alasan karena perempuan, pada kelas empat atau lima mereka dipaksa berhenti dan belajar tentang hal yang dianggap lebih penting daripada sekolah. Selanjutnya bisa ditebak sendiri, mereka dinikahkan.
Ada juga yang sebaliknya, orang tuanya mau anaknya tidak. Kalau yang begini biasanya berakhir dengan tunduknya anak pada kemauan orang tua. Dengan berbagai cara orang tua akan merayu anaknya agar bersekolah. Ada yang dengan memberi hadiah mainan, ada yang membujuk kalau mau sekolah dibelikan sepeda mini, ada juga yang hanya sekedar diajak jalan-jalan ke kota. Pemberian hadiah semacam itu dulu masih merupakan hal yang langka. Mainan, sepeda mini dan jalan-jalan ke kota menjadi kesenangan yang cukup membahagiakan bagi anak-anak seusiaku di desa dulu. Aku termasuk di kelompok yang kedua ini, yaitu yang orang tuanya mau anaknya enggan. Berbagai cara dilakukan orang tua untuk merayuku agar mau sekolah. Tapi semuanya tidak mempan, aku tetap lebih suka diajak ke sawah. Itulah mungkin yang menyebabkan orang tuaku memaksa dengan menggendongku ke sekolah.
Sebelum waktu istirahat, anak-anak diminta membawa tulisannya ke depan dan menyerahkan kepada Bu Guru. Entah apa perasaan yang mengiringiku, waktu istirahat itu aku turut bermain dengan teman-teman. Aku tidak mengerti kalau ini adalah di sekolah, yang saya tahu hanya bermain. Seperti di sawah yang selalu bermain dengan senang, begitu juga saat ini, di sekolah, aku merasa senang bisa bermain dengan teman-teman. Ibuku hanya duduk-duduk di halaman sekolah. Kebetulan di sana ada penjual kue yang dikenal, dialah yang menemani ibu ngobrol. Tidak terasa bel kentheng  tanda masuk  berbunyi, "theng-theng" teman-teman bubar berhamburan menuju kelasnya masing-masing. Suroso, Mansur, Misbah, Ilham, dan Hafidh mengajakku masuk kelas. Aku mengikuti ajakan mereka masuk ke kelas tanpa diringi ibuku.
Dalam kelas Bu Yat mengajari bernyanyi. Lagu yang dinyanyikan adalah
'Satu satu akau sayang ibu
Dua dua aku sayang ayah
Tiga tiga sayanga adik kakak
Satu dua tiga sayang semuanya'
Lagu itu sudah lebih seminggu diajarkan kepada anak-anak, karena itu mereka langsung bisa menirukan dengan serentak. Kelas dibagi dua kelompok, sebelah kanan bu guru dan sebelah kirinya. Masing-masing menyanyikan lagu satu-satu bergantian. Setelah bernyanyi secara bergiliran, Bu Yat juga menyuruh beberapa anak bergantian maju untuk menyanyi di depan kelas. Aku sempat gemetaran kawatir disuruh maju. Tapi ternyata bu guru hanya menyuruh yang sudah hafal dan bisa. Aku termasuk yang belum bisa, karena hari itu adalah hari pertamaku sekolah. Setelah bernyanyi gembira selesai, Bu Yat mengembalikan buku catatan kepada pemiliknya. Tepat jam 10.30, kelas satu dipulangkan. Begitu keluar dari pintu kelas, ibu menyambutku. Bersama teman-teman aku berjalan pulang, diringi ibu di belakang.
Sore hari ayah melihat buku sekolahku. Ayah memuji nilai yang ditulis bu guru di bawah jajaran angka tujuh. Nilai yang dibubuhkan di situ adalah 75. 'Wah, baru masuk nilainya 75, anak pintar,' begitu kata ayah memuji. Ucapan ayah ini diikuti oleh nenek dan uwak-uwakku yang kebetulan rumahnya gandeng gedhek. Aku termotivasi oleh pujian-pujian itu, padahal tulisan di buku itu bukan tulisanku. Esok harinya aku tidak perlu digendong ke sekolah. Bahkan diantar juga tidak, karena temanku, Ilham, Misbah dan Mansur menjemputku ke rumah. Setelah bersalaman dengan ibu dan mengucapkan salam pamit aku berangkat. Aku berangkat ke sekolah dengan senang. Perasaan takut juga sudah hilang, karena di sekolah nanti aku tidak hanya di suruh duduk di kelas, tapi ada kesempatan bermain. 'Mungkin nanti bu guru menulis angka delapan, dan seperti kemarin, kita disuruhnya menyalin ke buku catatan,' kata Misbah. Perasaanku kembali deg-degan, 'wah, berarti aku nanti harus nulis sendiri', gumamku.

20 Jan 2012

karya sastra_Jodoh Terbaik untuk Icha

Jodoh Terbaik untuk Icha

“Dia merokok, gak?”
Aku mengeluh dalam hati. ‘Lagi-lagi segudang kriteria itu…’ pikirku gundah.
“Insya Allah enggak kok, Cha…”
“Jangan-jangan dia pernah pacaran..” Kulihat matanya berkedut pelan, tanda kesangsian.
“Masa kamu se-nggak percaya itu sih sama aku, Cha… Nggak mungkinlah aku menjerumuskan sahabatku sendiri, pastilah aku memilih yang terbaik untuk Icha yang cantik ini..” kucubit pipinya gemas.
Icha mengelak.
“Iiih.. jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan deh…” tak pelak kulihat sekilas tawa dimatanya.
***
Sudah beberapa minggu ini aku mendapat kesibukan baru yang cukup menguras energi dan plus, kesabaranku. Semua ini bermula saat aku bertemu kembali dengan Icha, sahabat SMA-ku dulu.
Sepuluh tahun lalu, Icha adalah bintang kelas di sekolah. Selain selalu meraih peringkat pertama, penampilannya yang supel dan apik menjadikannya orang nomor satu di sekolah. Tak ada yang tak mengenalnya kala itu.
Dan kini, ia masih persis sama seperti yang terakhir kali kuingat. Cantik dan menarik, itulah gambaran singkat tentangnya. Namun, satu hal yang sama sekali tak kusangka, hingga penghujung usia dua puluhan ini, ia masih melajang. Padahal kupikir Ichalah yang akan melepaskan statusnya untuk pertama kali.
Akhirnya, aku dan suamiku, Mas Ryan, beritikad membantu Icha mencari pendamping hidupnya.
Awalnya kupikir mudah, lagipula siapa sih yang akan menolak calon istri seideal Icha? Sudah cantik, cerdas, berpenghasilan lumayan lagi. Apalagi sekarang ia bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi ternama di kotaku.
Namun harapan tinggal harapan. Memang tak satupun menolaknya, justru permasalahan terbesar datang dari Icha sendiri. Satu persatu calon yang datang selalu ditampiknya,meski secara halus. Adaaaa… saja kekurangan lelaki yang melamarnya. Entah beda suku, beda karakter, sampai hal-hal remeh yang kadang membuatku jengkel juga. Kumis lebat, tangan yang berbulu, bahkan kebiasaan mengusap hidung bisa membuat Icha menolak meneruskan ta’arrufnya. Bayangkan!

“Aku belum sreg, Ra..” begitu alasan Icha selalu.
Kalau mood-ku lagi jelek-jeleknya, pasti Mas Ryan yang turun tangan.
“Lebih sabar lagi ya, Dek..” katanya selalu sambil mengusap rambutku lembut.
Kalau sudah begitu, rasa kesalku seketika lenyap, berganti rasa syukurku yang tak terhingga atas karunia Allah padaku. Mas Ryan yang selalu membimbingku dan menjadi imam terbaik bagiku. Aku ingin Icha pun mendapatkan ikhwan sebaik dan sesholeh suamiku (ehm!).
Maka kulanjutkan usahaku mengatur ta’arruf untuk Icha dan kenalan-kenalanku maupun suamiku. Sayangnya hingga saat ini, proses perkenalan selalu berakhir tanpa ada kelanjutan, sebagian besar berasal dari pihak Icha.
***
“Assalamualaikum..” Suara lembut itu membuyarkan lamunanku.
“Waalaikumussalam warahmatullah… Masuk aja, Cha... Sudah kutunggu dari tadi..”
Aku berdiri menyambut sahabatku, yang tampak menawan dengan balutan jilbab pink-nya.
“Bang Ryan mana?” Pandangan Icha mengelilingi seluruh penjuru rumahku.
“Kan lagi ngejemput pangeran berkudamu, Cha..” Kucoba menggodanya.
Ia tersenyum kecil.
“Apaan sih…” katanya geli. Lalu ditambahkannya setengah berbisik, “Kamu yakin, kan Ra, kali ini?”
“Aku gak enak selama ini selalu menyusahkanmu, apalagi saat menolak calon-calon pilihanmu itu..” lanjutnya sambil menerawang.
Kugeser dudukku.
“Cha.. dengerin.. Sebagai sahabatmu aku selalu ingin yang terbaik bagimu, begitu pula suamiku. Kami bisa mengerti kok kalau kamu belum merasa cocok dengan beberapa orang sebelum ini. Satu hal yang kuharapkan Cha.. Jangan pernah ingkari hati kecilmu, terus istikharah, mohon dan tanyalah yang terbaik padaNya..” kataku panjang lebar.
Icha menunduk. “Iya, Ra.. Terima kasih..”
“Sudahlah..” Kutarik tangannya menuju ruang keluarga. “Sini, kita liat dulu biodata calonmu kali ini..” Kukedipkan mataku. Icha hanya tertawa kecil.
Tak berapa lama kemudian, suara motor Mas Ryan terdengar. Aku spontan berdiri menyongsong kehadirannya.
“Assalamualaikum!” Mas Ryan masuk, diiringi sesosok tinggi dibelakangnya. Aku tak dapat melihat terlalu jelas, tertutup oleh tubuh Mas Ryan.
“Waalaikumussalam..” Kucium tangan suamiku, sambil berbisik, “Icha sudah di dalam, Mas..”
Mas Ryan mengangguk.
“Duduk dulu, Wan..” Mas Ryan mempersilahkan tamunya duduk.
“Kenalin, ini istriku tersayang, Zahra..” jelas Mas Ryan sambil menggamit lenganku. Aku tersipu.
Kutangkupkan kedua telapak tanganku di depan dada.
“Oh.. Ini toh Mbak Zahra yang sering diceritakan di kantor.. Saya Irwan, Mbak.. Muhammad Irwansyah.. teman sekantornya Mas Ryan,” terangnya sambil tersenyum singkat. Kuperhatikan tak sekalipun ia mengarahkan tatapnya padaku. ‘Bagus,’ pikirku. Berarti ia paham konsep ghoddu-l-bashar.[1]
“Mari duduk dulu ya.. Biar dibuatkan minuman dulu..” Aku masuk ke dalam, meninggalkan suamiku berdua dengannya.
“Cha, dia sudah datang, tuh…” Aku beranjak ke dapur. “Seperti biasa, nanti kamu yang bawa tehnya ke depan, ya…” Aku sengaja memanas-manasi Icha.
“Iya-iya.. Biasanya kan memang gitu..” Kudapati rona merah di wajah Icha. Hihi.. Meski bukan pertama kali, ta’arruf memang selalu menimbulkan rasa deg-degan…
“Nah, sudah siap nih..” Kuangsurkan baki dengan beberapa cangkir diatasnya. “Ayo..” Aku mendahului berjalan di depan Icha.
“Ra..” panggil Icha pelan. “Kalau yang ini gak cocok lagi, udahan aja ya.. Aku.. Malu.. Sama kamu dan orang-orang.. “
“Hei..” Kupotong perkataan Icha. “Soal itu kita bahas lain waktu aja, oke.. Sekarang kita hadapi dulu apa yang ada di depan mata.. Perkara lanjut atau tidak, Insya Allah sudah ada jalannya sendiri..” Kucoba menguatkan hati Icha. Tak urung ia pasti lelah dan jenuh setelah beberapa kali gagal ta’arruf.
“Bagaimana? Siap melanjutkan?” Kuremas lengan Icha perlahan, sambil berbisik,” Bismillah, Cha..”
Icha mengangguk.
“Mas..” kupanggil Mas Ryan.
Ia menoleh.
“Oh, sudah siap, ya?” Mas Ryan menggeser duduknya, mempersilahkan kami. Icha duduk di sebelahku.
“Ini, Wan.. Aisyah.. Akhwat yang kukenalkan padamu..”
Kulihat Irwan mengangkat kepala sekilas. Icha semakin dalam tertunduk.
“Baiklah, Bismillah.. Kita mulai saja ya, bagaimana?” lanjut Mas Ryan.
Irwan mengangguk. “Boleh saya yang memulai, Yan?” pintanya.
“Silahkan..”
“Emmm.. Begini, Ukhti Aisyah.. Sebelumnya, antum sudah melihat biodata saya?”
Icha mengangguk. Kusikut lengannya pelan. “Jawab, Cha.. Dia kan gak mungkin ngelihat kamu terus-terusan..”
Icha tanggap. “Sudah, Akhi.. Tapi belum semua sebenarnya.. Ukhti Zahra baru saja menunjukkannya padaku…”
“Lalu..” Irwan menarik napas panjang. “Antum sudah memutuskan…”
“Tentu saja belum..” Icha mengangkat kepala. “Karena itu saya menunggu saat taaruf ini.. Saya rasa setelah bertukar pikiran, baru saya dapat memutuskan..”
“Tapi, Ukhti.. Saya rasa kita tidak dapat meneruskan prosesi ta’arruf ini, sebelum antum membaca biodata saya selengkapnya..”
“Maksud kamu apa, Wan?” potong Mas Ryan. Ia tampak gusar. “Ada yang kamu sembunyikan dariku?”
Irwan terdiam.
Lalu setelah menghela napas untuk kesekian kali,
“Iya, Yan.. Maaf.. Aku sengaja baru menyerahkan biodata itu semalam, karena…” Irwan bagai tak kuasa melanjutkan ucapannya.
Hening sejenak.
Mas Ryan segera mengambil alih.
“Dek.. Tolong ambilkan amplop biodata Irwan..”
Aku segera bangkit.
“Ini, Mas..” Kuangsurkan amplop putih ke tangan Mas Ryan.
“Boleh aku baca?”
“Silahkan, Yan..” Irwan kelihatan pasrah.
Aku hanya dapat menggenggam telapak tangan Icha yang dingin erat-erat. ‘Dzikir, Cha..’ bisikku. Aku juga tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Tiba-tiba..
“Wan! Apa-apaan ini?!! Kamu gak pernah bilang sebelumnya padaku!” Mas Ryan tak biasanya meninggikan suaranya.
“Aku..” Irwan tampak kesulitan bicara.
Aku tak menyangka begini jadinya. Sama sekali belum kupahami situasi yang terjadi. Icha sama bingungnya denganku, ia hanya diam dan terus menunduk.
Sejenak kemudian, Mas Ryan sudah berhasil menenangkan diri.
“Kenapa kamu gak sekalipun mengatakannya padaku, Wan..” Suaranya melunak.
Aku berdebar menanti jawaban Irwan.
“Sebenarnya.. Aku juga sama shocknya denganmu, Yan.. Awalnya aku juga tak menyadari apa-apa, dan baru akhir-akhir ini aku sadar ada yang salah pada diriku..”
Aku semakin tak paham.
“Namun saat aku telah memastikannya, semuanya sudah terlambat. Aku sudah menyepakati janji ta’arruf ini, dan aku rasa tak adil kalau harus membatalkannya secara sepihak. Maka kuputuskan, apapun yang akan terjadi nanti, aku harus menyelesaikannya secara baik-baik. Aku gak mau ada kesalahpahaman dalam hal ini..”
Mas Ryan memijit pelipisnya, berusaha melepas penat yang seketika menerpa.
“Lalu, soal biodata ini..?”
“Soal itu.. Karena kupikir satu-satunya cara untuk memberitahu Ukhti Aisyah secara halus adalah lewat biodata itu, jadi aku sengaja tidak menyerahkan pada waktu yang telah kita tentukan. Aku menulis dan menyusun ulang semuanya, kuharap setelah membacanya Ukhti Aisyah sendiri yang memutuskan untuk membatalkan proses ini.. Tak kusangka ia bahkan belum membaca semuanya…”
Senyap kembali mengambang.
Aku, yang masih belum mengerti benar, akhirnya tak tahan lagi.
“Maaf, Mas, aku belum mengerti.. Apa yang sebenarnya terjadi..??”
Mas Ryan memandangku dalam, seolah berusaha memahamkanku dengan tatapannya.
“Jelaskan saja, Yan.. Toh memang itu yang aku harapkan..”
Kulihat kepasrahan total di wajah Irwan.
“Baiklah.. Sebelumnya, aku minta maaf.. Sama sekali tak kuduga akan jadi seperti ini.. Jujur saja aku sangat terkejut, tapi biar bagaimanapun, aku menghargai niat tulus Irwan.. Jadi, kumohon, silahkan dibaca dan diresapi biodata Irwan itu, Cha..”
Icha gemetar mengambil amplop yang tergeletak di atas meja.
“Bismillah…” Icha menggumam.
Aku ikut gelisah menanti. Beberapa saat kemudian..
“Masya Allah...” Icha kembali menggumam. Ia memejamkan kedua matanya.
Sebaliknya, Irwan tampak lega.
“Bagaimana, Icha.. Kau sudah membacanya..?” tanya Mas Ryan.
“Sudah, Bang..”
“Jadi…”Mas Ryan tampak was-was.
Tak seperti prasangkaku, Icha tak sekaget yang kuduga..
“Oke..” aku tak sabar lagi. “Sekarang bisakah antum semua menjelaskan pokok permasalahannya padaku?”
Icha memelukku.
“Gak ada apa-apa kok, Ra.. Ta’arruf ini bisa dilanjutkan…”
Mas Ryan dan Irwan sontak terkejut,
“Apa?? Kamu serius, Cha..?” Semua mata menatap Icha.
Ia tampak gugup.
“Mmm… iya.. Aku serius.. Aku sudah membaca biodata Akhi Irwan, dan aku tidak menganggap ada masalah dengan semua itu.. Aku tidak tahu, tapi.. aku rasa…”
Irwan masih terpana, “Afwan, Ukhti.. Mungkin antum belum membaca..”
“Sudah, Akhi.. Tak satu katapun terlewatkan, Insya Allah.. Saya juga tidak mengerti. Tapi hati kecil saya mengatakan demikian...” Icha tersenyum.
Aku makin tak mengerti melihat ekspresi mereka.
Seketika Irwan berkata pelaaaannn sekali, seolah tanpa daya.
“Sebaiknya pikirkan kembali keputusan antum, Ukhti… Lagipula itu bukan hal yang mudah..”
“Irwan benar, Cha..” Mas Ryan menimpali. “Coba dipertimbangkan lagi masak-masak, diskusikan terlebih dahulu dengan orang tua dan kaum kerabat.. Ya?”
Icha tampak berpikir keras.
“Baiklah.. Akan saya bicarakan lagi dengan keluarga..” katanya sesaat kemudian. “Jadi keputusan selanjutnya..” Icha tak meneruskan kalimatnya. Tampaknya ia kebingungan mencari kata-kata.
“Biar nanti aku dan Dek Zahra yang mengaturnya.. Bagaimana?”
Irwan dan Icha mengangguk.
“Baiklah.. Kalau begitu, saya pamit dulu Yan, Mbak Zahra, Ukhti Aisyah.. Assalamualaikum..”
“Waalaikumussalam warahmatullah..”
Sejurus kemudian, Icha pun izin pulang. “Aku juga pulang dulu, ya Bang Ryan,, Ra,, Nanti kukabari setelah keputusannya pasti...”
“Cha..” panggilku. Icha berbalik. “Pikirkan matang-matang, jangan tergesa-gesa..”
Icha mengangguk. “Insya Allah, Ra…”
Setelah mengucapkan salam, Icha pun berlalu.
Segera kubalikkan badan menghadap Mas Ryan.
“Apaan sih, Mas… Aku belum paham sebenarnya apa yang terjadi sih..” Ekspresiku merajuk.
“Begini lo, Dek..” Mas Ryan menggandengku masuk, tak lupa diambilnya amplop biodata Irwan di atas meja.
“Jadi.. Ternyata selama ini, Irwan menderita kanker.. Kanker paru-paru..”
Aku terbelalak.
“Benarkah??? Kok aku gak pernah tau..”
“Jangankan kita, Dek.. Sepertinya Irwan juga baru saja memastikannya.. Namun mungkin saat itu, dia sudah menyetujui ajakan kita untuk ta’arruf dengan Icha…”
“Ya Allah..” Aku beristighfar dalam hati. Tak kusangka, inilah yang terjadi. Kurebut amplop di tangan Mas Irwan.
Ternyata benar! Tertulis disana, riwayat penyakit : Kanker Paru-paru..
Jadi ini alasannya mengapa Irwan meminta Icha membaca biodatanya sebelum memutuskan.. Tak heran ia kaget saat Icha bukannya membatalkan, justru ingin meneruskan..
“Menurut Mas, Irwan baik gak buat Icha…” pelan aku bertanya.
“Kalau Mas sih, gak bisa menentukan baik-buruknya.. Yang Mas tahu, Irwan adalah ikhwan sholeh yang mengutamakan akhirat diatas segalanya, begitu pula dengan Icha. Dan satu yang Mas yakini, bila mereka memang jodoh terbaik satu sama lain, halangan apapun takkan memengaruhi.. Seperti adek bagi Mas..” Mas Ryan menyentil hidungku.
Aku tersenyum senang.
***
“Aku mantap, Ra..” Kutatap wajah putih Icha yang memerah saga.
“Kamu yakin..?”
“Insya Allah.. Aku baru menyadari selama ini aku terlalu mementingkan faktor-faktor duniawi saja, ya Ra.. Padahal yang terpenting adalah dien, tak lain tak bukan hanya itu.. Dan aku yakin Mas Irwan bisa membimbingku..”
“Bagaimana orang tuamu?”
“Mereka menyetujui keputusanku, Ra.. Entah kenapa, sosok yang kulihat dalam mimpi-mimpiku, juga kedua orang tuaku, selalu Mas Irwan…” Wajahnya makin bersemu.
“Soal penyakitnya..”
“Tentang hal itu, aku sudah berkonsultasi dengan keluargaku, mereka justru memberiku semangat.. Insya Allah, aku akan menemani Mas Irwan berobat dan berikhtiar demi kesembuhannya.. Ingat, Ra.. Rasul SAW. sendiri bersabda, bahwa setiap penyakit ada obatnya.. Aku percaya hadits itu, Ra.. Aku juga sangat yakin Allah tahu yang terbaik bagiku, dan Dia telah menunjukkannya lewat mimpi-mimpiku.. Jujur saja, aku belum pernah seyakin ini sebelumnya..”
“Tolong doakan aku, ya Ra.. Semoga aku bisa meraih kehidupan sakinah, mawaddah, warahmah.. Insya Allah niatku tulus untuk ibadah...”
Mataku berkaca-kaca.
“Amin… Cha.. Amiinnn.. Aku dan Mas Ryan Insya Allah akan selalu mendoakan kalian..” Kupererat pelukanku pada Icha.
Icha tampak begitu bahagia. Subhanallah… Akhirnya ia menemukan jodohnya.. Jodoh yang sama sekali tak disangka-sangka. Jodoh terbaik pilihan Allah baginya.

[1] Menjaga pandangan (bhs arab)

Malang 2012
Asri Aisyah
Mahasiswi PBA semester IV

karya sastra_Tatapan Moyang, dalam Lagu Pengabdian

Tatapan Moyang, dalam Lagu Pengabdian

Tatapan Moyang, dalam Lagu Pengabdian
Dewi Nurhayati
Mahasiswi BSA/II

Di bawah atap hitam aku menyulun malam,
Tumpukan krikil dan padang rembulan menjadi butiran rindang.
Aku menyorot…
Dua anak kecil itu… cukup lihai, menjaga jarak demi sebuah penghormatan,,
Merunduk bahu dalam kejauhan,, lakon apa itu??
Tak satupun tatapannya melawan arah…namun merunduk seakan takut ..
Pada tatapan moyang penuh usapan…
Sepi…hening…tanpa suara …bagai merapati tunduk di bawah kepakan sang naga..
Aku menikmatinya,,,ada guratan ketengan… antara moyang dan belita wayang..
Tapi enthalah….
Kini,,, kebisuanpun hilang….tundukan menjadi topeng perlawanan…
Kesantunan menjadi orakan…
Hingga moyanpun…. Tertindih batu kemunkaran.
Oh.. moyangku…Abdiku kini Hilang.

karya sastra_Kuthanisun

Kuthanisun

Kuthanisun
Oleh: Kholil (Dosen Fakultas Humaniora dan Budaya)

Siji wektu isun kepikir kepingin balik nyang riko
Koyo bengen susah lan seneng nyanding bareng ambi riko
Tau isun mlaku-mlaku, alas, gunung, segoro
kabeh sun liwati lan sun deleng
Rijig apik koyo lemah kang dicoplok teko suwargo

Banyuwangi
Banyuwangi kuthanisun, kutha kang tentrem lan asri
Kutha kang sugih kabudayan sugih tradisi
Ana gandrung, janger, barong, kuntulan
ugo ana kang diarani slametan utowo kenduri
Masio masyarakate Islam
Warisan leluhur teko mbah buyut tetep dirumat lan diuri-uri
Contone Seblang, Kebo-keboan lan Ider Bumi
Ring Banyuwangi
panggonan wisata sing kaitung akehe
Mulai teko kang alami sing diubah blas lan digawe-gawe
sampe kang gawenan tangan ulie sekolah lan kepinteran
Alas Purwo, Alas Baluran, Sukomade, Grajagan, Kawah Ijen
sampe Alam Indah Lestari iku contone
Dulur
Siji wektu riko kudu weruh
Kudu ndeleng lan ngerasakaken kelendi apik lan rijige kuthanisun Banyuwangi
Mulo isun ojo salahaken
Kadung sampe saiki mageh tetep iling lan kangen
nyang kuthanisun Banyuwangi
kutha kang kesohor Blambangan

Malang, 18 Nop. 2011
Naskah puisi ini ditampilkan di Festival Budaya 2011