Saturday, 8 February 2014

PENJELASAN AYAT AL-QUR'AN TENTANG RIYA ( INGIN DILIHAT ORANG )

RIYA
 ( INGIN DILIHAT OARANG )

(QS. 08/Al-Anfal: 47)
47. dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.

wur
   #qçRqä3s?  tûïÏ%©!$%x. (#qã_tyz
 `ÏB NÏd̍»tƒÏŠ #\sÜt/
 uä!$sÍur Ĩ$¨Y9$# šcrÝÁtƒur `tã
 È@Î6y «!$# 4 ª!$#ur
 $yJÎ/ tbqè=yJ÷ètƒ ÔÝÏtèC

Dan janganlah:  

 Kalian menjadi:

seperti orang orang yang:

mereka keluar:

dari kampung mereka:

dengan rasa angkuh:

dan riya:

terhadap manusia:

serta menghalangi:

dari:

jalan Allah:

dan (ilmu) Allah:

dengan apa yang:

mereka kerjakan:

meliputi:


Setelah ayat-ayat lalu menuntun kaum muslimin bagaimana sikap yang seharusnya mereka ambil dalam peperangan, kini disebutkan sifat-sifat buruk yang mereka harus hindari, sekaligus mengisyaratkan sikap kaum musyrikin. Yaitu Dan janganlah kamu, wahai kaum mukminin, menjadi seperti orang-orang musyrik bahkan siapapun yang masing-masing keluar dari kampong halaman mereka yakni dari mekah bahkan dari manapun, dengan rasa angkuh lagi tidak mensyukuri ni’mat, dan dengan maksud riya berbangga-bangga terhadap manusia dengan berkata bahwa kita berperang agar orang tahu bahwa kita berani sehingga orang takut menghadapi kita serta menghalangi diri mereka sendiridemikian juga orang lain dari jalan Allah, mereka melakukan itu semua padahal Allah, dengan ilmu dan kekuasaan-Nya, meliputi apa yang mereka kerjakan dan atas dasar pengetahuan dan kekuasaan-Nya meliputi itu Dia memberi balasan yang adil.
Ayat ini menggambarkan sikap pasukan kaum musyrikin menjelang terjadinya perang,. Mereka sebenarnya keluar dari mekah dengan tujuan menyelamatkan kafilah mereka. Tetapi, dalam perjalanan dan ketika mereka sampai ke dekat badar, mereka mendafat informasi dari kurir Abu Sufyan bahwa kafilah telah berhasil menghindar dari incaran kaum muslimin. Ketika itu, sebagian anggota pasukan musyrik mengusulkan agar mereka kembali saja ke Mekkah karena tujuan telah tercapai tanpa perang,. Tetapi abu Jahal enggan, dengan angkuhnya, berkata: “ kita tidak akan kembali hingga kita sampai di Badar, minum khamr/ minuman keras, menyenbelih unta, serta ditabuhkan gendang oleh penyanyi-penyanyi wanita. Biar suku-suku sekitar mengetahui kehebatan kita”.
Apa yang di harapkan Abu Jahal itu terjadi dalam bentuk yang bertolak belakang. Mereka minum pahitnya kekalahan, mereka tidak di sambut dengan nyanyi tetapi dengan tangis, mereka tidak menyembelih unta tetapi justru leher tokoh-tokoh mereka yang di tebas oleh pasukan muslim. Demikian, buanh keangkuhan.
Ayat ini melarang kaum muslimin mengikuti jalan yang di tempuhorang-orang kafir itu. Maksudnya, janganlah kamu meninggalkan tempat menuju medan juang dalam keadaan angkuh serta berbangga-bangga dengan materi dan hiasa duniawi yang kamu miliki serta bertujuan membendung dan menghalangi dari jalan Allah melalui ucapan dan perilaku kamu yang bertolak belakang dengan ketakwaan karena itu semua memadamkan cahaya iman dalam kalbu kamu dan memperlemah kamu sehingga mengakibatkan kamu mengalami kekalahan dan kebinasaan; dan ketahuilah bahwa pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu.
Al-Biqa’i yang mengutip ibnu al-Qqyyim al-Jauziyah Menjadikan ayat 45 dan 46 sebagai nasihat untuk para pejuang dan tidak menyinggung ayat 47 sebagai bagian nasihat. Karena itu, mereka menilai bahwa ada lima sifat yang di sebut kedua ayat itu bila menyatu pada suatu pasukan pasti dengan bantuan Allah mereka akan meraih kemenangan dan puncaknya adalah kesabaran.
Thabathaba’i menggabung ayat 47 sebagai bagian dari nasihat karena itu ulama tersebut berpendapat bahwa ada enam kewajiban yang di bebankan Allah  atas orang-oarang beriman guna meraih kemenangan dalam peperangan yaitu: 1) Mantap, tidak beranjak dari tempat dan tidak ragu, 2) banyak berzikir, 3) Taat kepada Allah dan Rasul, 4) Bersatu tidak berbeda pendapat, 5) Tidak angkuh dan mencari muka, 6) Tidak membendung jalan Allah. Pendapt serupa di kemukakan oleh ulama Mesir bernama Muhammad al-Ghozali dalam buku Tafsir Maudhu’i-Nya.
Thahir Ibnu ‘Asyur menilai bahwa ayat 45 mengandung perintah yang bersifat khusus untuk masing-masing pribadi anggota pasukan yang bertujuan menyiapakan diri dan mental mereka, sedang perintah ayat 46 merupan perintah yangt bertujuan mengukuhkan barisan, yakni hubungan mereka satu sama lain. Karena, ayat ini memerintahkan mereka taat kepada Allah dan Rasul berkaitan dengan hukum-hukum yang di tetapkan-Nya, seperti pembagian ghanimah atau strategi perang, misalnya petunjuk kepada pasukan untuk bereda di posisi tertentu. Perintah taat ini tetap berlanjut walau rasul telah wafat dan kedudukan beliau sebagai komandan pasukan di limpahkan kepada komandan pasukan islam kapan dan di manapun.
Larangan berselisih mengandung makna upaya menghindar dari perselisihan, yakni perintah menjalin hubungan kasih sayang, melakukan diskusi dan musyawarah, serta tidak bersikap sewenang-wenag. Ini dapat di capai dengan melaksanakan perintah-Nya antara lain: “ Maka, rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. ( QS. Ali Imran :159 ).

















(QS.4/An-Nisa:38)
tûïÏ%©!$#ur šcqà)ÏÿYムöNßgs9ºuqøBr& uä!$sÍ Ĩ$¨Y9$# Ÿwur šcqãYÏB÷sム«!$$Î/ Ÿwur ÏQöquø9$$Î/ ̍ÅzFy$# 3 `tBur Ç`ä3tƒ ß`»sÜø¤±9$# ¼çms9 $YYƒÌs% uä!$|¡sù $YYƒÌs% ÇÌÑÈ  
38. dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya[297] kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, Maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.
[297] Riya ialah melakukan sesuatu karena ingin dilihat dan dipuji orang.

Dan orang-orang yang :

Mereka menafkahkan :

Harta-harta mereka :

Riya kepada manusia :

Dan tidak :

mereka beriman :

Kepada Allah :

Dan tidak :

Kepada hari :

Kiamat :

Dan barang siapa :

Menjadikan :

Syetan :

Baginya :

Teman :

Maka seburuk-buruk :

Teman :
tûïÏ%©!$#ur šcqà)ÏÿYムöNßgs9ºuqøBr& uä!$sÍ Ĩ$¨Y9$# Ÿwur šcqãYÏB÷sム«!$$Î/
 Ÿwur
 ÏQöquø9$$Î/ ÅzFy$# 3
 Ì`tBur
 Ç`ä3tƒ ß`»sÜø¤±9$# ¼çms9
 $YYƒÌs%
uä!$|¡sù
$YYƒÌs%

Kelompok lain yang juaga tidak di senangi Allah, atu keburukan laindari orang-oarng yang membanggakan diri dan angkuh, di samping kikir, juga sekali-kali bila mereka bernafkah, mereka menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, yakni ingin dipuji dan di ketahui bahwa dia adalah dermawan, bukan karena ingin mendapat ganjaran Ilahi atau didorong oleh rasa perihmelihat penderitaan orang lain. Dan dengan demikian, pada hakikatnya mereka adalah orang - orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Mereka dengan perbuatanya telah mengangkat setan sebagai teman, dan barangsiapa yang mengambil setan sebagai temanya, padahal setan adalah teman yang nyata, maka setan adalah seburuk -  buruk teman.”
                Mereka yang menafkahkan harta karena pamrih biasanya tidak menafkahkanya  pada tempat yang yang sebenarnya. Dia boleh jadi memberi yang orang kaya yang tidak membutuhkan dan mengabaikan orang miskin yang membutuhkan bantuanya. Ini karena dia tidak mengharapkan sesuatu dari si miskin, tapi mengharap dari si kaya. Ini juga karena mereka tidak percaya bahwa pemberian kepada si miskin akan bermanfaat baginya di hari kemudian. Itu sebabnya Allah berfirman: “ tahukah engkou orang yang mendustakan hari kemudian. “dijawab bahwa: “dia adalah yang mehardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi pangan kepada orang – orang miskin” ( baca QS. Al-Ma’un [107]: 1-3 ). Ini karena yang menghardik anak yatimdan tidak memberi pangan orang-orang yang butuh bagaikan tidak percaya adanya hari kemudian, diamana setiap orang memeroleh balas dan ganjaran,
                 Kata ( شيطا ن ) ayaithan, bisa saja terambil dari akar kata ( شطن ) syathan yang berati jauh karena setan menjauh dari kebenaran atau menjauh dari rahmat Allah. Bisa jadi juga terambil dari kata ( شا ط ) syatha, dalam arti melakukan kebatilan atau terbakar.dari segi makna, pakar bahasa, al-juhari (w. 1005 ). Menjelaskan bahwa semua yang membangkang baik jin, manusia, ataupun binatang, dinamai syaithan.
                Dalam karya penulis, yang tersembunyi, penulis kemukakan bahwa dari sekian ayat AL-Qur’an dan hadits, penulis memperoleh kesan bahwa kata setan tidak terbatas pada manusia dan jin tetapi juga dapat berarti pelaku buruk atau tidak menyenangkan, atau sesuatu yang butuk dan tercela. Al-Qur’an menamai alr setah, sebagaimana firman-Nya ketika menjelaskan suatu pohon di neraka, yakni ( طلعها كاْ نّه رؤوس ا لشّىا طىن ( thal’uha ka’annahu ru usu asy-syayathin/mayangnya seperti kepala setan-setan ( QS. Ash-shaffat [37]: 65 ).
                Mutawalli asy-sya-rawi, dalam bukunya yagn berjudul asy-syaithan wa al-insan,mengemukakan lebih kurang sebagai berikut : “ kita harus tahu bahwa ada setan-seta dari jenis jin dan dari jenis manusia, kedua jenis ini dihimpun oleh  sifat dan juga tugas yang sama yaitu menyebar luasakan kedurhakaan dan keruakaan di bumi. Setan-setan jin adalah mereka yang durhaka dari jenis jin yang membendung kepada kebenaran dan menajak kepada kekufuran. Setan-setan jenis manusia melaksanakan tugas yang sama. “apa yang dikemukakan ini berdasarkan firman Allah, “ demikian lah kami jadikan dari setiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan(dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikan perkataan-perkataan yang indah-indah kepada sebagian yanglain untuk menipu (manusia)” (QS. Al-An’am [6] :12).
                Kata ( قر ين )  qarin adalah sesuatu yang sellalu menyertai seseorang, ia bisa berupa manusia, setan, jin, atau bahkan malaikat, Qorin yang berupa setan akan menjerumuskan manusia, bahkan semu qarin akan mempengaruhi manusia, baik atau buruk, karena itu nabi berpesan pandai-pandai memilih teman. Baliau mengilustrasiakan teman yang buruk bagai tukang las, kalau bukan percikan api yang mengenai temannya maka paling tidak bau yang tidak sedap, sedangkan teman yang baik bagaikan tukang minyak wangi, kalau tidak memperoleh minyak yang harum maka palingtidak aromanya yang wangi.
                Setan oleh ayat di atas disebutkan sebagai seburuk-buruknya teman karena setan tidak puas kecuali dengan menjerumuskan manusia, dan tidak ada satu sisipun yang membuat darinya yang membawa akibat baik buat manusia, dia selalu membawa manusia kedalam keburukan dan menjaukanya dari kebajikan’
                Redaksi firman-Nya: menyangkut mereka, Allah maha mengetahui, yakni mendahulukan kata merek atas maha mengetahui, bertujuan untuk menenakan bahwa keadaan mereka diketahui Allah dalam segala perinciannya. Sedangkan, bila mendahulukan kata maha mengetahui, penekanan itu tertunjuk kepada pengetahuan Allah swt.


Pendapat-pendapat:
1.       M. Krisna G P
Riya adalah orang yang ingin di lihat orang lain manusia yang tidak dapat merendah kan dirinya Yang ingin selalu di pandang orang lain sedangkan diriya ingin menjadi orang yang lebih dari diri orang lain contoh nya jika diri orang itu mempuyai harta yang berlimpah dan mempuyai niat ingin dilihat oleh orang lain siapa saya dan siapa diri saya orang yang riya itu biasanya melihat kan hartanya masing – masing seperti emas cincin kalung gelang biasanya hal ini terjadi pada seorang wanita atau ibu – ibu yang dari bidang ekonominya lebih dan ingin dipuji oleh orang lain .
Biasanya riya itu selalu berada diri kita mungkin dengan cara yang tidak sadar maupun sedang sadar misalnya di diri kita masing – masing pasti ada rasa ingin di lihat atau di puji oleh orang lain namun hal ini bisa kita cegah oleh kita walaupun sedikit- sedikit kita hilangkan dari diri kita tapi disaat kita dengan keadaan sikon yang tepat untuk kepada seseorang mmisalnya ada suatu orang kapir yang ingin merendahkan umat islam disaat itu lah umat islam harus menunjukan atau melihat kepada orang kapir itu bahwa umat islam itu tidak rendah dan menunjukan sesuatu kepada orang kapir itu tidak selalu di bawah pendirian orang kapir .
Di saat itulah kita diperlukan untuk riya kepada umat kapir itu tetapi sesama umat islam itu tidak boleh saling riya koita harus selalu rendah hati kepada umat islam jika suatu umat islam yang riya kepada suatu umat islam maka sesungguh nya allah itu maha melihat lagi maha pendengar barang siapa yang riya ssesungguhnya ajab dan siksa allah itu sangat pedih
Manusia yang hidupnya di dunia hanya ingin riya atau dilihat oleh orang lain baik itu dalam suatu pekerjaaan maupun dalam gelimbang harta baik dalam suatu fisik yang mereka miliki biasanya mereka adalah orang – orang yang hidup ya kurang bersyukur kepada allah swt yang ingin ya selalu lebih dari orang lain  dan ingin selalu di pandang oleh orang lain siapa saya .
Maka sesungguhnya allah swt tidak suka kepada orang yang riya yang mengerjakan segala sesuatu yang dengan tidak ikhlas tapi hanya ingin dilihat oleh seseorang
Dalam suatu setiap riya itu ada negatif nya dan ada positif nya, antara lain :
a.       Perbuatan riya yg negatif dalam ke hidupan di dunia
1.        Jika seorng wanita itu sedang berjalan – jalan dio suatu tempat dengan keadaan membawa barang–barang berharga mungkin ingin dilihat oleh orang lain seperti bawa cincin emas kalung emas gelang emas sampe jam tanganya emas hanya ingin dilihat  oleh orang lain namun tidak lama kemudian jika seorang wanita itu tidak bertobat maka allah akan memberi sebuah cobaan kepada wanita itu dengan menghilangkan suat barang berharganya maupiun hartanya sampai wanita itu perekonomian nya semakin menipis dan tidak bisa menikmati lagi kekanyaan nya itu .
2.       Riya jika seorang oitu terlalu berlabihan riya kepada orang lain akan timbulnya kecemburuan saosial dari bidang ekonomi maupun itu harta barang yang berharga dll sekalipun itu dalm suatu fisik yang sempurna maka akan ada suatu musibah  akn di benci oleh orang lain maupun oleh allah swt dan akan menjauhinya hanya karena perbuatan nya itu .
3.       Dan juga orang riya itu di akhirat nya akan di balas oleh perbuatan nyaitu karena allah swt tidak suka orang-orang yang riya.

b.      Perbuatan riya yg positif dalam ke hidupan di dunia

Jika seorang itu berbuat riya dengan keadaaan sikon yang tepat misalnya orang kafir yang melecehka umat muslim maka suatu kaum umat islam harus menunjukan atau melihat kepada umat kafir itu bahwa umat islam itu tak segampang untuk di lecehkan oleh orang kafir maka umat muslim ini sama saja sudah membela agamanya sendiri umat islam ini akan mendapat suatu pahalaa yang berlimpah karena perbuatan nya itu .

2.       Sandi Maulana :
Riya adalah perbuatan yang menghalangi diri dari Allah, Riya juga dapat menghapus amal sama halnya dengan syirik, akan tetapi persamaan syirik disini ialah syirik yang kecil. Dan orang yang suka berbuat syirik ia adalah temannya setan.

3.       Wandi Tosan :
Riya adalah perbuatan yang ingin dilihat orang dan ingin mendapatkan pujian, Sehingga timbulah dalam hati perasaan bangga dan masuklah semua itu kedalam cabang-cabang sombong, jadi riya adalah perbuatan sombong dan Allah tidak suka orang yang berbuat sombong dan akan di masukan ke Neraka. Riya juga sama halnya dengan syirik karena dapat menghapus amal, perbuatan apapun yang kita kerjakan namun ada perasaan riya maka semua itu percuma dan sia-sia, maka dari itu jauhilah sifat-sifat penyakit hati yang diantaranya ialah perbuatan riya tadi.

4.       Ahmad gunawan A K
Riya adalah bagian cabang-cabang sombong yang pertama, maka riya merupakan kesombongan atau sikap sombong yang yang terdapat dalam diri manusia karena perbuatan yang ingin dilihat oleh orang lain atau apapun itu, riya juga sikap yang ingin dilihat orang lain karena melaksanakan kebaikan sekaligus ingin mendapatkan apresiasi atau perhatian orang lain serta pujian kepadanya.


5.       Abdul Rohman
Riya adalah suatu perbuatan dan perkataan yang ingin dilihat juga di nilai oleh orang lain, missal riya perkataan, bersumpah dari selain nama Allah . Dan riya perbuatan, senang dilihat, contoh belajar dengan tujuan ingin dilihat oleh pacar, maka, dinamakan riya perbuatan. Namun dampaknya terhadap diri sendiri ialah Allah menghapus semua amal-amal baiknya dan kita akan sia-sia.












AL-HADITS
الّرِّ ياَءَ يُحْبِطُ الْعَمَلَ كَمَا يُحْبِطُ اْلشِرْكُ ( الربيع )

“Riya itu menghapus amal sebagaimana juga syirik”.
(HR. Ar-Ruba’i ).

اِنَّ الرِّيَاءَ الشِّرْكُ الْاَصْغَرُ( رواه احمد والحا كم )

“Sesungguhnya riya itu adalah syirik kecil”.
( HR. Ahmad dan Hakim ).

لِلْمُرَائِ ثَلَاثُ عَلَمَاتٍ: يَنْشَطُ اِذَا كَانَ مَعَ النَّاسِ, يَتَكَاسَلُ اِذَا كَانَ وَحْدَهُ, وَيُحِبُّ اَنْ يُحْمَدُ فِي جَمِيْعِ اُمُوْرِهِ.وَلِلْمُنَافِقِ ثَلَاثُ عَلَمَاتٍ: اِذَا حَدَثَ كَذَبَ, وَاِذَا وَعَدَ اَخْلَفَ, وَاِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.
( ابن با بويه)

“ Tanda-tanda orang yang riya ada tiga: Ketika ada manusia, rajin/giat, ketika sendiri, malas dan suka disanjung (puji) dalam setiap urusannya. Dan orang munafik tandanya ada tiga: Apabila berkata bohong, apabila berjanji menyalahi dan apabila di percaya khianat.”
( HR. Ibnu Babawaih ).

Monday, 3 February 2014

LATAR BELAKANG SEJARAH BANTEN


LATAR BELAKANG SEJARAH BANTEN

1.1 Banten Menjelang Abad XVI
Berita atau sumber-sumber sejarah tentang masa sebelum abad XVI sangat sedikit dapat ditemukan.  Setidak-tidaknya pada abad XV – XVI Banten sudah menjadi pelabuhan kerajaan Sunda.  Menurut Ten Dam di daerah sekitar ibukota kerajaan Sunda yakni Pajajaran, yang lokasinya sekitar Bogor sekarang, sudah ada dua jalur jalan darat penting yang menghubungkan daerah pantai utara dengan ibukota.
Sungai-sungai yang mengalir dari pedalaman ke Utara Jawa juga telah dimanfaatkan sebagai jalur hubungan daerah pedalaman dan daerah pantai.  Salah satu di antara dua jalur darat itu alah, jalan dari ibukota Pajajaran menuju Jasingga kemudian membelok ke Utara Rangkasbitung dan berakhirnya di Banten Girang.
Banten Girang terletak kira-kira 3 km di sebelah Utara kota Serang sekarang atau sekitar 13 km dari Banten Lama. Dengan adanya nama Banten Girang (Girang = Hulu) timbul pikiran tentang kemungkinan adanya nama Banten Hilir (Hilir = Muara).  Tetapi yang menjadi pertanyaan apakah ada suatu kota bernamna Banten Hilir ? Dan jika itu ada apakah sama dengan Banten Lama sekarang ?
Pada waktu Tome Pires mengunjungi Banten tahun 1513, Banten merupakan pelabuhan yang belum begitu berarti tetapi sudah disebutkan sebagai pelabuhan kedua dari kerajaan Sunda  yang terbesar sesudah Sunda Kelapa. Hubungan dagang telah banyak antar Banten dengan Sumatra dan banyak perahu yang berlabuh di Banten. Pengekspor  beras, bahan makanan dan lada.  Sedangkan sekitar tahun 1522 Banten sudah merupakan pelabuhan yang cukup berarti, dimana kerajaan Sunda melalui pelabuhan Banten dan Sunda Kelapa sudah mengekspor 1.000 bahar lada per tahun.

1.2. Banten Abad XVI
Ketika kerajaan yang bercorak Islam berdiri, pusat kekuasaan di wilayah ini yang semula berkudukan di Banten Girang dipindahkan ke Kota Surosowan di Banten Lama dekat pantai.  Dari sudut politik dan ekonomi, pemindahan ini dimaksudkan untuk memudahkan hubungan pesisir Utara Jawa dengan pesisir Sumatra melalui Selat Sunda dan Samudera Indonesia.  Situasi ini berkaitan dengan kondisi politik di Asia Tenggara masa itu, dimana Malaka sudah jatuh di bawah kekuasaan Portugis sehingga pedagang-pedagang yang segan berhubungan dengan Portugis mengalihkan jalur dagangannya melalui selat Sunda.
Berdirinya kota Surosowan sebagai ibukota kerajaan Banten adalah atas petunjuk dan perintah Sunan Gunung Jati pada puteranya Hasanuddin yang kemudian menjadi raja Banten pertama.  Kedatangan penguasa Islam ke daerah Banten terjadi kira-kira 1524 – 1525, pada saat mana daerah Banten masih ada dalam kekuasaan kerajaan Sunda. Berdasarkan tradisi setempat yang menjadi penguasa kerajaan Sunda terakhir di daerah Wahanten Girang  (Banten Girang) adalah Prabu Pucuk Umun, putera Prabu Seda. Sunan Gunung Jati atau Syeh Syarief Hidayatullah yang menjadi penguasa Islam pertama di Banten tidak mentasbihkan diri menjadi raja pertama tetapi menyerahkan kekuasaan Banten kepada puteranya Maulana Hasanuddin yang pada tahun 1526 menikah dengan putera Sultan Trenggana dinobatkan menjadi raja Banten pada tahun 1552.
Selain membuata keraton Surosowan, Hasanuddin juga telah membangun dua mesjid di sekitar Banten Lama sekarang.  Mesjid yang pertama ialah mesjid yang terletak di kampung Pecinan dan yang kedua ialah Mesjid Agung kerajaan yang terletak disebelah barat alun-alun.
Hasanuddin digantikan oleh Maulana Yusuf sebagai raja Banten yang kedua (1570 – 1580).  Ia telah memperluas wilayah kekuasaan Banten  sampai jauh  ke pedalaman  yang semula masih dikuasai kerajaan Sunda Pajajaran dan berhasil menduduki ibukota kerajaan Pakuan.  Berdasarakan tradisi, Maulana Yusuf telah memperluas bangunan Mesjid Agung dengan membuata serambi dan juga telah membangun mesjid lain di Kasunyatan (selatan Banten Lama).  Waktu Maulana Yusuf wafat yang berhak naik tahta ialah Pangeran Muhamad.  Karena waktu itu Pangeran Muhamad masih kecil maka yang bertindak sebagai wali raja ialah Pangeran Aria Japara.  Salah satu episode penting dalam masa pemerintahan Pangeran Muhamad ialah kedatangan kapal-kapal Belanda pada tahun 1596   yang berlabuh di pelabuhan Banten dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Dari merekalah didapat catatan-catatan tertulis yang sangat berharga tentang Banten.

1.3. Banten Abad XVII - XVIII
Salah satu dari kondisi sosial politik dan sosial ekonomi  terutama sejak pertengahan abad XVII kerajaan Banten mulai dimasuki pengaruh Belanda.  Pada abad XVII kerajaan banten mengalami kemajuan perdagangan dan kebudayaan.  Raja-raja atau sultan-sultan yang memerintah dalam abad ini di Banten  adalah sebagai berikut :
a. Abdul Mufakir Makmud Abdul Kadir           1596 – 1640
b. Abdul Maali Akhmad                                1651 – 1672
c. Abdul Fathi Abdul Fatah                           1651 -  1672
d. Abdul Nas’r Abdul Kohar                          1672 -  1687
e. Abdul Fadhal                                           1687 -  1690
f. Abdul Mahasin Zainul Abidin                      1690 -  1733

Tentang nama-nama sultan yang memerintah pada abad XVII hampir tidak ada perbedaan interpretasi di antara beberapa penulis.  Tetapi mengenai masa pemerintahannya terdapat bermacam-macam tafsiran seperti misalnya yang dikemukakan oleh Valentijn.
Catatan mengenai kota Banten pada abad XVII dapat diperoleh dari berbagai sumber.  Diantara sumber tersebut menceritakan bahwa pada tahun 1664 Banten sudah dikelilingi oleh tembok kuat dan bermeriam.  Menurut sumber lainnya bahwa temboknya terbuat dari bata.  Keraton Surosowan yang tadinya tidak berbenteng, pada masa pemerintahan Sultan Abu Nas’r Abdul Kohar diberi benteng keliling.  Hal ini terbukti dari catatan Schouten yang belum menyebutkan adanya benteng keraton.  Berdasarkan catatan Belanda benteng ini dibuat oleh Hendrik Lucaszoon Cardeel menurut Valentijn.  Ia juga telah membngun sebuah menara yang dibuat di halaman depan Mesjid Agung Banten dan bangunan Tiyamah yang didirikan di sisi selatan serambi Mesjid Agung.

 1.4.  Banten abad XVII-XIX
Pada abad XVIII rakyat Banten sangat prihatin dan tidak setuju dengan cara yang diterapkan Belanda di Kesultanan Banten. Muncullah perjuangan para tokoh-tokoh Banten, mereka sebagai grilyawan yang bermarkas di hutan-hutan selatan, selalu siap menghadapi tentara Belanda yang menuju Batavia yang mengangkat rempah-rempah dan barang-barang perdagangan lainnya dari banten. Pada babad Bantenpun tersebut bahwa Selat Sunda setiap saat waspada dan disiapkan para bajak negara yang sering disebut Bojonegoro, untuk memusnahkan kapal-kapal kompeni Belanda.
Dari sultan ke sultan, sejak pergantian Sultan Haji oleh Sultan Abdul Fadhal pada tahun 1687 dan dilanjutkan oleh sultan berikutnya pada tahun 1690, yaitu sultan Abul Mahasin Zainul Abidimn, kesultanan Banten tidak banyak mengalami kemajuan apa-apa kecuali saat banten dipegang oleh Sultan Fathi Muhammad Syafa Zainul Arifin pada tahun 1733, banyak terjadi pemberontakan–pemberontakan. Hal itu disebabkan karena adanya tekanan-tekanan Kompeni Belanda yang dirasakan oleh rakyat Banten, seperti kerja rodi dan lain sebagainya.
Pada tahun 1740-1753, Sultan Syarifuddin baru memerintah menggantikan Sultan Fathi terjadi banyak pemberontakan, antara lain adanya perlawanan rakyat dibawah pimpinan Ki tapa, seorang alim yang selesai bertapa di Gunung Muara. Rakyat menyaksikan bagaimana penguasa-penguasa keraton dikuasai Belanda. Mereka hanya menjadi alat penjajah untuk memeras rakyat. Terlebih lagi ketika Sultan Fathi Muhamad Siffa Zainul Arifin ditangkap dan di buang ke Ambon atas hasutan Syarifah Fatimah pada tahun 1735. Setelah itu syarifah Fatimah diakui sebagai wakil Sultan, dengan memakai gelar Ratu. Hal ini merupakan ssuatu penghinaan dan penghianatan terhadap penguasa Banten.
Para pengikut dan pecinta Sultan Ageng mendapat kesempatan bersama-sama rakyat Banten lainnya untuk melawan Belanda.
Nama Raja/Sultan
Yang memerintah di Banten
Tahun
Pemerintahan
Syarief Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati
Maulana Hasanuddin Panembahan Surosoan
Maulana Yusuf Panembahan Pakalangan
Maulana Muhammad Pangeran Ratu Banten
Sultan Abulmafachir Mahmud
Sultan Abul Ma’ali Ahmad Kenari
Sultan Agung Tirtayasa Abulfathi Abdul Fatah
Sultan Haji Abunhasri Abdul Kahhar
Sultan Abul Fadhal
Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin
Sultan Muh. Syifai Zainul Arifin
Sultan Syarifuddin ratu wakil
Sultan Muh. Wasi’ Zainul Alimin
Sultan Muh. Arif Zainul Asyikin
Sultan Abul Mafakih muh. Aliyudin
Sultan Muhyiddin Zainussolihin
Sultan Muh. Ishak Zainul Muttakin
Sultan Wakil Pangeran Natawijaya
Sultan Agiluddin (Aliyuddin II)
Sultan Wakil Pangeran Suara Manggal
Sultan Muhammad Shafiyuddin
Sultan Muhammad Rafi’uddin

1525
1552
1570
1580
1596
1640
1651
1672
1687
1690
1733
1750
1752
1753
1773
1799
1801
1803
1803
1808
1809
1813


Tahun-tahun bersejarah beberapa pemberontakan di Banten sebagai perlawanan rakyat kepada penjajah Belanda.

Pada tahun 1808
Rakyat menentang Marsekal Deandels dalam pembuatan pelabuhan di Ujung Kulon. Pemberontakan di Pasir Peteuy, Pandeglang di bawah pimpinan Mas Nuriman.
Pada tahun 1809
Ketika Pemerintah Hindia Belanda Memerintahkan untuk membuat Anyer-Panarukan terjadi pemaksaan dan kekerasan sehingga mengakibatkan pemberontakan:
1.     Pemberontakan Banten Selatan
2.     Pemberontakan Anyer
3.     Penyerbuan di Cikande
Pemberontakan di Leuweung Lancar, di bawah pimpinan Mas Angabay Naya Wipraja dan Angabay Jaya Sedana sebagai dendam atas serbuan Deandels ke Banten serta musnahnya Keraton. Juga diakibatkan karena dikuasainya Banten dan Lampung sebagai jajahan Belanda.   Tangerang, Jasinga dan Sadeng dirampas untuk kemudian dimasukkan ke Batavia dan sebagai batasnya adalah Cidurian dan Bogor.
Pada tahun 1813     
Terjadi pemberontakan Undar-andir di bawah pimpinan Mas Ngabai Lonang dan Mas Djakaria, yang terkenal dengan pemberontakan Undar-andir I.
Pada tahun 1815      
Dikenal dengan pemberontakan Mas Djuring dan Mas Sampiuh di Pandeglang.  Saat itu keraton di Ciekek dengan sultannya bernama Achmad.
Pada tahun 1817       
Terjadi pemberontakan Undar-andir II di bawah pimpinan seorang yang bernama Bidin dan Agus Kamis.
Pada tahun 1830
Terjadi Pemberontakan Nyimas Gamparan bersama saudara-saudaranya , peperangan terjadi di Cikande, Rangkasbitung, waringin Kurung, Pandeglang sampai ke Tarogong. Serangan rakyat terhadap tanam paksa yang lebih di kenal dengan istilah Belanda Kultur Stelsel. Penyerbuan terjadi di sekitar lereng Gunung Karang.
Pada tahun 1845    
Terjadi Perang Cikande II di bawah pimpinan mas sarean, dibantu oleh seorang wanita yang bernama Nyi Tinah beserta 34 orang pengikut yang semuanya wanita, Belanda kewalahan menghadapi serangan tersebut, namun mereka akhirnya semua dihukum gantung.
Pada tahun 1858      
                            Dilanjutkan dengan pemberontakan Culang Batu ke II, dimana dalam pertempuran tersebut ada seorang letnan Belanda yang mati terbunuh.
Pada tahun 1886       
Terkenal dengan terjadinya Pemberontakan di cilegon, di bawah pimpinan H. Wasyid dan puncak perlawanan itu disebut Geger Cilegon 1888 yang didukung oleh para ulama dan jawara Banten.

2. KEPURBAKALAAN
       Di Banten Lama dan sekitarnya kini masih terdapat beberapa peninggalan kepurbakalaan yang berasal dari zaman kerajaan Islam Banten (abad XVI – XVIII)
       Peninggalan tersebut ada yang masih utuh namun banyak yang tinggal reruntuhannya saja bahkan tidak sedikit yang berupa fragmen-fragmen kecil. Peninggalan berupa artefak –artefak kecil yang dikumpulkan dalam penelitian dan penggalian kepurbakalaan kini telah disimpan di Museum Situs Kepurbakalaan yang terletak di halaman depan bekas Keraton Surosowan.
Peninggalan kepurbakalaan tersebut adalah :
1.       Komplek Keraton Surosowan
2.       Komplek Mesjid Agung
3.       Meriam Ki Amuk
4.       Mesjid Pacinan Tinggi
5.       Komplek Keraton Kaibon
6.       Mesjid Koja
7.       Kerkhof
8.       Benteng Spelwijk
9.       Klenteng Cina
10.   Watu Gilang
11.   Makam Kerabat Sultan
12.   Mesjid Agung Kenari
13.   Benda-benda purbakala di Museum Banten